Penyakit jantung koroner merupakan gangguan pada pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung. Kondisi ini dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun, bahkan sebelum muncul keluhan. Karena itu, memahami penyebab penyakit jantung koroner penting bukan hanya bagi orang yang sudah mengalami nyeri dada, tetapi juga mereka yang merasa sehat.
Risikonya dipengaruhi oleh gabungan kebiasaan sehari-hari, kondisi kesehatan, usia, dan keturunan. Sebagian faktor dapat dikendalikan, sedangkan sebagian lainnya tidak. Mengenali keduanya membantu menentukan langkah pencegahan dan pemeriksaan yang sesuai.
Apa Penyebab Utama Penyakit Jantung Koroner?
Penyebab tersering penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding arteri koroner. Plak terbentuk dari kolesterol, sel peradangan, dan berbagai komponen lain. Seiring waktu, penumpukan ini dapat mempersempit pembuluh darah dan mengurangi aliran darah menuju otot jantung.
Ketika kebutuhan oksigen meningkat, misalnya saat beraktivitas, aliran darah yang terbatas dapat menyebabkan nyeri atau rasa tertekan di dada yang disebut angina. Jika plak pecah atau mengalami erosi, bekuan darah dapat terbentuk dan menyumbat aliran darah secara mendadak. Kondisi ini bisa menyebabkan serangan jantung.
Faktor risiko tidak sama dengan kepastian terkena penyakit. Namun, semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin besar kemungkinan terjadinya gangguan pada pembuluh darah jantung.
Faktor Risiko yang Bisa Diubah atau Dikendalikan
1. Merokok dan Paparan Asap Rokok
Zat dalam rokok dapat merusak lapisan pembuluh darah, meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan, dan mempercepat aterosklerosis. Paparan asap rokok orang lain juga meningkatkan risiko. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah paling berdampak untuk melindungi jantung. Jika sulit berhenti, bantuan tenaga kesehatan dapat mencakup konseling dan terapi yang sesuai.
2. Kolesterol LDL Tinggi
Kadar kolesterol LDL yang tinggi berperan dalam pembentukan plak di arteri. Sebagian orang memiliki LDL tinggi akibat pola makan, sementara yang lain dipengaruhi faktor genetik. Meski penyebab genetik tidak bisa diubah, kadar LDL tetap dapat diturunkan melalui perubahan gaya hidup dan obat bila diperlukan. Target LDL ditentukan berdasarkan tingkat risiko masing-masing orang.
3. Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi memberi tekanan berlebihan pada dinding arteri dan membuat jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi ini mempercepat kerusakan pembuluh darah. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala, sehingga pemeriksaan tekanan darah tetap penting meskipun tubuh terasa sehat. Pengendaliannya dapat memerlukan pembatasan garam, aktivitas fisik, dan obat.
4. Diabetes dan Gula Darah Tinggi
Diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung koroner melalui kerusakan pembuluh darah dan proses metabolik yang kompleks. Kondisi ini juga sering disertai hipertensi serta gangguan kolesterol. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya berfokus pada gula darah, tetapi juga mencakup tekanan darah, kadar lemak darah, dan kebiasaan merokok.
5. Kurang Bergerak dan Kelebihan Berat Badan
Kurangnya aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan tekanan darah, resistensi insulin, serta berat badan berlebih. Penumpukan lemak di sekitar perut juga berkaitan dengan risiko metabolik yang lebih tinggi. Aktivitas teratur bermanfaat bagi kesehatan jantung, bahkan ketika penurunan berat badan belum terlihat. Mulailah dari kegiatan sederhana seperti berjalan kaki dan mengurangi waktu duduk terlalu lama.
6. Pola Makan Kurang Sehat
Konsumsi berlebihan lemak jenuh, lemak trans, garam, dan makanan tinggi gula dapat memperburuk faktor risiko kardiovaskular. Sebaliknya, pola makan kaya sayur, buah utuh, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein sehat membantu melindungi jantung. Pilih lemak tidak jenuh, misalnya dari ikan dan kacang, untuk menggantikan sebagian lemak jenuh.
7. Konsumsi Alkohol Berlebihan dan Kebiasaan Lain
Alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan mengganggu kesehatan jantung. Orang yang tidak minum alkohol tidak perlu mulai minum demi kesehatan. Kurang tidur dan stres berkepanjangan juga dapat berkaitan dengan peningkatan risiko, termasuk melalui perubahan tekanan darah, pola makan, atau kebiasaan merokok. Faktor-faktor ini perlu ditangani bersama faktor risiko utama lainnya.
Faktor Risiko yang Tidak Bisa Diubah
- Usia: Risiko meningkat seiring pertambahan usia karena paparan faktor risiko dan perubahan pembuluh darah terakumulasi. Meski demikian, penyakit jantung koroner juga dapat terjadi pada usia muda.
- Jenis kelamin biologis: Secara umum, laki-laki cenderung mengalami penyakit jantung koroner lebih dini. Pada perempuan, risiko meningkat setelah menopause, tetapi perempuan sebelum menopause tetap dapat mengalaminya.
- Riwayat keluarga: Risiko lebih tinggi jika keluarga tingkat pertama, seperti orang tua atau saudara kandung, mengalami penyakit jantung koroner dini, terutama sebelum usia 55 tahun pada laki-laki atau 65 tahun pada perempuan.
- Faktor genetik: Kondisi bawaan seperti hiperkolesterolemia familial dapat menyebabkan LDL sangat tinggi sejak muda. Gen tidak dapat diubah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui deteksi dan pengobatan dini.
Memiliki faktor risiko yang tidak bisa diubah bukan berarti penyakit pasti terjadi. Justru, kondisi tersebut menjadi alasan untuk lebih aktif mengendalikan faktor yang masih dapat diperbaiki.
Langkah Praktis untuk Menurunkan Risiko
- Hindari rokok dan buat rencana berhenti bila masih merokok.
- Periksa tekanan darah, profil kolesterol, dan gula darah sesuai usia, kondisi kesehatan, serta anjuran dokter.
- Usahakan aktivitas aerobik intensitas sedang sedikitnya 150 menit per minggu dan latihan kekuatan dua hari per minggu. Tingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan.
- Perbaiki pola makan, jaga berat badan yang sehat, dan pertahankan tidur yang cukup serta teratur.
- Minum obat yang diresepkan secara konsisten. Jangan memulai aspirin untuk pencegahan tanpa penilaian dokter karena ada risiko perdarahan.
Jika memiliki penyakit jantung, keluhan saat beraktivitas, atau kondisi medis tertentu, konsultasikan jenis dan intensitas olahraga terlebih dahulu. Penilaian risiko menyeluruh membantu dokter menentukan apakah perubahan gaya hidup saja cukup atau diperlukan obat.
Kenali Tanda Bahaya
Segera cari pertolongan darurat jika muncul rasa tertekan atau nyeri dada yang baru, berat, atau menetap, terutama bila disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau nyeri menjalar ke lengan, rahang, maupun punggung. Serangan jantung tidak selalu menimbulkan nyeri dada khas. Jangan menyetir sendiri atau menunda pertolongan karena menganggapnya sekadar masuk angin.
