Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan, umumnya akibat penumpukan plak aterosklerosis. Akibatnya, pasokan oksigen dapat tidak mencukupi kebutuhan jantung, terutama saat beraktivitas. Jika plak pecah dan memicu bekuan darah, aliran darah dapat tersumbat mendadak dan menyebabkan serangan jantung.
Untuk mengenali kondisi ini, dokter menggunakan pemeriksaan dengan tujuan berbeda: menilai aktivitas listrik, fungsi pompa, gangguan aliran darah, hingga melihat pembuluh koroner secara langsung. Tidak semua orang membutuhkan seluruh tes, dan pemeriksaannya tidak harus berurutan dari EKG sampai angiografi.
Kapan Pemeriksaan Perlu Dilakukan?
Evaluasi diperlukan bila muncul nyeri atau rasa tertekan di dada, sesak saat beraktivitas, atau penurunan kemampuan fisik yang tidak jelas penyebabnya. Dokter juga mempertimbangkan usia, kebiasaan merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol, serta riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Jika nyeri dada baru atau berat berlangsung beberapa menit, berulang, atau disertai sesak, keringat dingin, mual, pingsan, maupun nyeri menjalar ke lengan, rahang, atau punggung, segera cari pertolongan darurat. Jangan menunggu jadwal pemeriksaan rutin atau mengemudi sendiri. Pada sebagian orang, serangan jantung dapat terjadi tanpa nyeri dada khas.
Penilaian Awal: Wawancara, Pemeriksaan Fisik, dan Tes Darah
Dokter terlebih dahulu menggali pola keluhan, pemicu, durasi, penyakit penyerta, dan obat yang digunakan. Pemeriksaan fisik mencakup tekanan darah, denyut jantung, serta tanda gangguan sirkulasi atau gagal jantung.
Tes darah membantu melengkapi penilaian. Kolesterol dan gula darah menggambarkan faktor risiko, sedangkan fungsi ginjal penting sebelum pemeriksaan tertentu yang menggunakan kontras. Pada dugaan serangan jantung, troponin digunakan untuk mendeteksi cedera otot jantung. Hasilnya perlu ditafsirkan bersama gejala dan EKG; pemeriksaan ulang mungkin diperlukan karena kadar troponin belum tentu meningkat pada fase sangat awal.
1. Elektrokardiogram atau EKG
EKG merekam aktivitas listrik jantung melalui elektroda yang ditempelkan pada kulit. Pemeriksaan ini cepat, tidak menggunakan radiasi, dan umumnya tidak menimbulkan nyeri.
EKG dapat menunjukkan gangguan irama serta perubahan yang mengarah pada kekurangan oksigen atau serangan jantung. Pada keluhan akut, pemeriksaan ini menjadi bagian penting dari evaluasi awal dan kadang perlu diulang.
Namun, EKG normal tidak otomatis menyingkirkan penyakit jantung koroner atau serangan jantung. Penyempitan pembuluh dapat belum menimbulkan perubahan saat pasien sedang beristirahat. Karena itu, hasil EKG harus dikaitkan dengan kondisi klinis dan pemeriksaan lain.
2. Ekokardiografi: Menilai Struktur dan Fungsi Jantung
Ekokardiografi atau USG jantung menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran jantung. Dokter dapat menilai kekuatan pompa, gerakan dinding jantung, ukuran ruang jantung, dan kondisi katup.
Bagian otot yang kekurangan aliran darah atau pernah mengalami kerusakan dapat bergerak lebih lemah. Meski demikian, ekokardiografi saat istirahat umumnya tidak memperlihatkan penyempitan pembuluh koroner secara langsung. Hasil normal juga tidak menutup kemungkinan adanya penyakit koroner.
3. Uji Latih dan Pencitraan Stres
Tes treadmill atau sepeda statis
Uji latih menilai respons jantung ketika kebutuhan oksigen meningkat. Selama berjalan di treadmill atau mengayuh sepeda statis, petugas memantau EKG, tekanan darah, denyut jantung, dan gejala.
Tes ini dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu dengan kondisi stabil, mampu berolahraga, dan memiliki EKG dasar yang dapat dinilai. Pemeriksaan ini bukan pilihan untuk orang yang sedang dicurigai mengalami serangan jantung akut atau kondisi tidak stabil.
Stress echo dan pencitraan perfusi
Jika diperlukan informasi tambahan, stres fisik atau obat dapat dipadukan dengan ekokardiografi, pencitraan nuklir, atau MRI jantung. Tujuannya mencari gangguan gerakan otot atau aliran darah yang muncul saat jantung bekerja lebih keras. Pemilihan metode bergantung pada kondisi pasien, fasilitas, dan pertimbangan dokter.
4. CT Angiografi Koroner: Melihat Pembuluh Tanpa Kateter ke Jantung
CT angiografi koroner atau CCTA menggunakan pemindaian CT dan zat kontras melalui infus untuk melihat pembuluh koroner, plak, serta kemungkinan penyempitan. Pemeriksaan ini tidak memerlukan pemasukan kateter melalui arteri menuju jantung.
CCTA dapat membantu evaluasi pasien tertentu dengan dugaan penyakit koroner, terutama pada keluhan stabil. Namun, kualitas gambar dapat terganggu oleh denyut yang terlalu cepat atau tidak teratur dan pengapuran yang berat. Penyempitan yang terlihat juga belum tentu menunjukkan seberapa besar dampaknya terhadap aliran darah.
Hal yang perlu dipertimbangkan meliputi paparan radiasi, reaksi terhadap kontras, serta kondisi ginjal. Beri tahu dokter bila sedang hamil atau mungkin hamil, memiliki penyakit ginjal, atau pernah mengalami reaksi terhadap kontras.
5. Angiografi Koroner Invasif atau Kateterisasi
Pada angiografi invasif, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh arteri, biasanya di pergelangan tangan atau pangkal paha, menuju muara pembuluh koroner. Zat kontras kemudian disuntikkan agar aliran di dalam pembuluh terlihat melalui sinar-X.
Pemeriksaan ini dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti sebagian kasus sindrom koroner akut, temuan pemeriksaan berisiko tinggi, atau gejala yang menetap meski telah mendapat pengobatan. Bila perlu, pengukuran tambahan seperti FFR atau iFR membantu menentukan apakah suatu penyempitan benar-benar menghambat aliran darah.
Angiografi tidak selalu berujung pada pemasangan stent. Pilihannya dapat berupa obat, intervensi koroner, atau operasi bypass sesuai temuan dan kondisi pasien. Risikonya mencakup perdarahan, cedera pembuluh, reaksi kontras, gangguan ginjal, serta komplikasi serius yang jarang terjadi.
Persiapan dan Cara Memahami Hasil
- Bawa daftar obat, riwayat penyakit, alergi, dan hasil pemeriksaan sebelumnya.
- Tanyakan aturan makan, minum, kafein, serta aktivitas sebelum tes karena ketentuannya berbeda.
- Jangan menghentikan obat jantung, pengencer darah, atau obat diabetes tanpa instruksi tenaga medis.
- Diskusikan manfaat, risiko, alternatif, dan kemungkinan pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan terbaik bukan selalu yang paling canggih, melainkan yang paling sesuai dengan pertanyaan klinis. Dokter memilih tes berdasarkan gejala, kemungkinan penyakit, kondisi penyerta, dan tingkat kegawatan. Hasil yang normal maupun tidak normal tetap perlu ditafsirkan dalam konteks tersebut agar keputusan perawatan tepat dan pemeriksaan yang tidak diperlukan dapat dihindari.












